News Update :
More »
More »
Hot News »
Bagikan kepada teman!

Hujan Deras, Jalan Berubah Jadi Sungai

Penulis : Unknown on Friday, February 26, 2016 | 8:44 PM

Friday, February 26, 2016

BANJIR - Hujan deras yang mengguyur kota batang menyebabkan sebagian jalan tergenang air
BATANG – Hujan deras disertai angin kencang, Jumat (26/2) sore, membuat sejumlah ruas jalan protokol dalam kota dibanjiri air. Bahkan, kondisi jalan menjadi serupa sungai karena genangan air yang cukup dalam.

Hujan sendiri mulai mengguyur Kota Batang sekitar pukul 17.00 WIB, setelah sebelumnya sempat terjadi gerimis. Dalam waktu beberapa menit, air telah menggenangi beberapa jalur protokol, seperti Jl Dr Wachidin dan Jl Perintis Kemerdekaan, Jl A Yani, dan Gajahmada.

Karena genangan yang cukup tinggi, kondisi badan jalan benar-benar tak terlihat. Beberapa pengendara terpaksa menuntun sepeda notornya karena mogok. Seperti terpantau di Jl Dr Wachidin, ada beberapa pengendara yang memilih menepi untuk menyalakan kembali motornya.

“Biasa, businya bermasalah kalau hujan gede. Ini dah nuntun dari rumah sakit, mas,” tutur seorang pengendara yang menuntun motornya kea rah timur di Jl Dr Wachidin.

Genangan air juga memaksa pengendara menekan gas lebih tinggi agar laju kendaraan bisa melintasi hadangan air. Akibatnya, suara-suara knalpot yang mendengung meramaikan jalan. Beberapa remaja justru dengan sengaja meraung-raungkan gas saat berpapasan dengan mobil atau motor lain sambil berteriak dan terbahak. Mereka bahkan terlihat mondar mandir di jalan yang sama.

Beberapa pengendara lain yang terganggu hanya menoleh kea arah remaja-remaja iseng itu, dan memilih melanjutkan perjalanan. Banjir juga terjadi di sepanjang Jl A Yani. Luapan air hujan tak mampu ditampung oleh saluran yang ada, sehingga kondisi badan jalan pun dibajiri air.

“Jalannya nggak kelihatan. Untungnya jalan nggak rusak, jadi aman untuk pengguna jalan,” tutur warga Kauman, Endro.

Seperti halnya di Jl Dr Wachidin, beberapa motor yang melintasi A Yani pun alami mogok. Menurut Endro, ada beberapa motor yang menepi karena tak bisa dilajukan. “Hujannya deras, jadi gampang banjir. Jangankan di jalan, di perkampungan juga banjir,” tukasnya.

Sampai dengan berita ini dituliskan, hujan masih berlangsung. Namun curahnya menurun.
comments (1) | | Read More...

Harga Jagung Turun Rp3.000

KELUHKAN - Petani jagung keluhkan turunnya harga jagung dari Rp6.000 menjadi Rp3.000 per kilogram
KENDAL – Saat ini, harga jagung kering turun drastis, dari Rp 6.000 menjadi Rp 3.000 per kilogramnya. Akibatnya, petani mengeluh. Diduga, turunnya harga jagung kering karena saat ini memasuki musim panen raya jagung.

Meski begitu, para petani berharap ada deregulasi patokan harga jagung dari pemerintah daerah Kendal yang menjadi rujukan harga petani dalam melakukan transaksi penjualan atas komoditas jagung. Sehingga, petani jagung dapat menikmati keuntungan hasil panen.

“Deregulasi harga bagi kami para petani perlu mas. Namun, yang terjadi saat ada komunitas pertanian harganya turun tak ada campur tangan pemerintah. Kami semua, hanya pasrah sama kondisi, jika harga turun, ya bagaimana lagi, terpaksa hasil pertanian dijual dengan harga yang ada tersebut. Kalau dikata rugi, ya, jelas rugi. Tapi kami juga butuh uang untuk kelangsungan hidup keluarga,” kata Khaerun, petani warga Desa Triharjo, Kecamatan Gemuh, saat ditemui radarpekalongan.com, disela-sela menjemur jagung hasil panen, Jumat (26/2).

Diungkapkan, turunnya harga jagung sudah terjadi pada awal Februari. Padahal akhir Desember 2015, harga jagung pada tingkat petani masih terbilang tinggi, sebesar Rp 6.000 perkilogramnya.

“Sebelum masa panen harga jagung masih bagus. Tapi kini turunnya kebangetan. Kami kawatir, ketika puncaknya masa panen harganya bisa turun lagi jadi Rp 2.000 perkilogram. Kalau sampai itu terjadi, kerugian besar tentu siap-siap akan menghantui petani,” ungkap dia yang tahun ini menanam jagung di lahan seluas satu hektar tersebut.

Dia berharap, ada campur tangan pemerintah daerah dalam menentukan harga hasil pertanian. Dengan begitu, akan menjawab kekawatiran petani akan mengalami kerugian dalam setiap melakukan panen raya.

Menurutnya, besaran harga jagung kering yang sesuai dan masih bisa memberikan cukup keuntungan bagi petani, sebesar Rp 4.000-Rp 4.500 per kilogramnya.

Hal senada diungkapkan petani lain, Juwari. Kata dia, pengalaman sebelumnya jagung turun saat panen raya tidak hanya terjadi satu kali. Melainkan bisa sampai dua tiga kali. Dengan turunnya harga jagung seperti yang terjadi saat ini, petani yang paling terkena dampak kerugianya. Untuk itu, ia berharap ada peran serta pemerintah dalam menstabilkan harga jagung di kalangan petani pada saat panen raya.

“Petani kecil seperti saya ini tentu kena dampaknya akibat harga jagung turunya tajam. Tidak tahu, apa ini ada permainan para tengkulak atau tidak. Yang jelas kami ingin tetap bisa nikmati keuntungan dan berharap pada pemerintah bisa perlindungan terhadap harga panen, sehingga petani bisa sejahtera,” imbuh dia.

Sumber : radarpekalongan.com
comments | | Read More...

Categories

 
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Copyright © 2011. Tribun Pantura . All Rights Reserved.
Design Template by panjz-online | Support by creating website | Powered by Blogger